Kamis, 18 Desember 2014

Aku ini anak Siapa?


Identitas diri anak penting ditanamkan sejak dini

‘Duhhh sudah mandi ya.., koq cantik banget sihh, anak siapa ya ini..??’
‘Anak koq dibilangin gak pernah nurut sama sekali…, anak siapa tho kamu tuh sebenarnya..?’
“Wahh kamu juara kelas lagi yaaa..?? anak siapa sih koq pinter banget…”
“Cucu siapa kamu tuh, kerjaannnya main melulu, gak ada cucu Nenek yang lain seperti kamu…”
               Hmmm, petikan-petikan kalimat di atas sudah sangat familiar di telinga kita, mungkin kita sendiri sebagai Ayah dan Bunda sering melakukannya, uupppsss… Sasarannya tidak saja anak yang masih balita, bahkan juga pada anak-anak yang sudah masuk usia sekolah bahkan remaja, atau bahkan semasa kita menjadi anak-anak sering sekali mendapat kalimat seperti itu yang ditujukan pada diri kita. Ada yang salahkah dalam kalimat-kalimat tersebut. Ayo kita cermati bersama, dan kita temukan jawabannya.. Yeachhh benar, kalimat-kalimat tersebut memiiki makna yang sama, kalimat tanya yang tidak jelas jawaban pastinya karena mengandung misteri…, wuiihhh segitunya ya…
            Sekilas memang tampak tak ada yang salah dengan kalimat itu, tapi setelah ditelaah, woowww  ternyata dampaknya sangat besar lho. Contoh kalimat-kalimat di atas baik yang isinya positif dan negatif mengandung pertanyaan: kamu anak siapa sihh..?? bagi anak artinya adalah: Lho koq pada gak tau ya aku ini anak siapa? Koq semua pada nanya: Kamu ini anak siapa sih..?? Kalau kalimat semacam itu hanya diucapkan sekali atau dua kali pada si anak mungkin tidak akan menjadi persoalan, tetapi jika itu diucapkan secara terus menerus dan ditambah lagi diucapkan oleh orang yang berbeda-beda, tentu saja akan menimbulkan kebingungan pada diri anak, sebenarnya aku ini anak siapa yaa… 

            Beberapa kali saya menemukan kasus anak yang murung, merasa tak berharga dan sejenisnya. Setelah diajak bicara dari hati ke hati, terucaplah satu kalimat yang menohok perasaan saya, sebenarnya saya ini anak siapa sih, koq ayah, ibu juga nenek dan tetangga sering sekali bertanya itu pada saya..?? apa memang aku ini bukan anak mereka sehingga mereka tak mau mengakuiku sebagai anaknya….
            Duhh, miris ketika menghadapi masalah seperti itu. Rasanya tak mungkin lah, itu hanya kalimat sepele, tapi kenyataannya ada kasus-kasus yang salah satunya dilatarbelakangi oleh perasaan-perasaan bingung dan penuh tanda tanya. Mungkin sebenarnya tak ada sedikitpun terbersit tujuan ayah atau bunda untuk membuat bingung anaknya, tetapi setiap anak bisa kan menangkap setiap kalimat dengan cara dan maknanya sendiri?? Sebagian mungkin mengucapkan kalimat demikian hanya untuk menggoda sang anak, tapi sayangnya lalu kalimat tanyanya dibiarkan menggantung. Bagi anak yang kritis dan sensitive, pertanyaan seperti itu akan memenuhi ruang hatinya dan terus menggelayut di benaknya, terutama ketika pertanyaan itu dilontarkan ketika anak berada di posisi yang tidak sejalan dengan orangtua (=membangkang atau melawan), atau pertanyaan itu berkaitan dengan merendahkan bentuk fisik, misalnya: Kamu tu anak siapa ya, koq kulitnya hitam sendiri, padahal ayah dan Ibu gak sehitam kamu…., Bagi anak yang kriti stentu akan menjawab: Lah kan bukan maunya saya dapat kulit hitam begini…?? Tapi bagi anak yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya.., pertanyaan sejenis ini akan sangat meresahkannya. So, sebelum ini menjadi masalah, kita ubah yuk kebiasaan ‘sepele’ ini. Janganlah membuat bingung anak kita dengan pertanyaan-pertanyaan sejenis ini, kalaupun memang ingin menggunakan kalimat seperti ini, tak ada salahnya kan kalau kita sambung dengan kalimat seperti :
“ehmm ya pastinya ya anak Ayah lah yang cantik ini”, atau:
“Lho anak Ibu koq sekarang belajarnya kurang rajin ya…”,
“Nenek rasanya gak percaya kalau cucu Nenek  ni sekarang selalu jadi juara kelas.., bangganya Nenek padamu…”, dan sebagainya…
Kalimat-kalimat tersebut setidaknya akan memberi penguatan dan pengakuan pada anak bahwa kita ada di belakangnya, apapun kondisi dia. Bahwa dia benar-benar anak Ayah dan Bunda apapun sifat, kondisi dan perbuatannya. Yang jelas, satu masalah tidak ada padanya, yaitu ketidakjelasan identitas asal-usulnya. Suatu perubahan yang besar tak akan terjadi tanpa didahului oleh merubah hal-hal sepele ke arah kebaikan…..
  

Ditulis Oleh : Bunda Shinta
Puri Melati, Jogja, 12 Mei 2011
Jam  21.50

0 komentar:

Posting Komentar